Minggu, 03 Juni 2012 | By: Simpet Soge

Jalan licin



Wah,
jalanan di sini
licin sekali

begitu seorang pemuda
nyeletuk di ponsel
dengan gadisnya di seberang

si gadis begitu terkesan:
Wah, kampung kamu
udah masuk aspal
yang licin?

Nggak kok yang,
cuma jalan tanah,
banyak lumpurnya.
Makanya licin.
Senin, 21 Mei 2012 | By: Admin

Tulis dan Baca


Di suatu musim liburan, saya pernah menjadi buruh bangunan di sebuah biara. Lokasinya ada di pinggiran kota Kupang. Tugas saya sepanjang minggu-minggu itu adalah mengecat tembok keliling biara. Saya diawasi oleh Boss saya, seorang kontraktor asal Bandung, yang juga mengawasi sejumlah besar pekerja lainnya di tempat terpisah.
Suatu hari menjelang tengah hari itu, hampir bertepatan dengan jam istirahat makan yang hanya sejam itu, muncul seorang gadis. Ia bertanya apakah saya kenal dengan salah satu penghuni biara dengan nama yang ia sebutkan. Karena memang saya tak kenal, ia saya suruh menanyakan sendiri ke penghuni atau menunggu saja di kursi tamu yang ada. Ia memilih yang kedua.
Penampilan gadis itu rapi, bertentangan dengan sebagian besar penduduk sekitar  yang bermata pencaharian petani dan buruh. Jadi saya duga, ia seorang mahasiswi. Saat ia tiba, saya memang sedang membereskan peralatan, hendak istirahat dan membongkar kantung bekal makan saya. Tetapi sebelum itu, saya menuju meja tamu yang penuh dengan tumpukan koran, majalah, dan buletin. Seperti biasanya, saya tahu kalau koran hari ini sudah tiba. Tangan saya yang penuh bercak-bercak cat pun menelusuri halaman-halaman berwarna itu.
Saat itulah si gadis meledek:
“Anda juga membaca koran?”
Sempat kaget juga, tetapi saya langsung sadar: buruh bangunan kan aneh kalau serius membaca. Perlahan, saya tutup rapi-rapi lembaran koran itu, lalu mundur teratur menuju bagian paling belakang biara. Padahal, topik-topik di koran hari itu cukup menarik.
Cerita singkat ini memunculkan refleksi: baca tulis adalah kemampuan dan bahkan barangkali juga “hak” yang hanya dimiliki sedikit orang. Orang-orang kecil kebanyakan seperti buruh bangunan, petani, nelayan, buruh tambang dan lainnya tentu tak boleh membuang-buang delapan jam kerja sehari mereka hanya dengan membaca. Produktivitas kerja mereka tentu jadinya menurun, suatu hal yang tidak diinginkan siapapun termasuk gadis dalam cerita di atas.
 Itu untuk kebanyakan orang. Tetapi bagi sedikit orang yang “berhak” membaca dan menulis, apakah mereka cukup menggunakan prifilese itu dengan cukup baik? Ini juga barangkali patut dipertanyakan. Sedikit orang ini adalah kaum terpelajar, dari siswa-siswa sekolah menengah hingga sekolah tinggi. Merekalah orang-orang yang menggunakan sebagian besar waktu mereka untuk belajar, sebagian besarnya dilakukan dengan menulis dan membaca selain berhitung, berdiskusi, dan setumpuk aktivitas lainnya.
Menengok ke masa lampau, baca tulis memang benar-benar dimiliki oleh sangat sedikit orang, bahkan hanya untuk orang-orang istimewa. Bahan bacaannya pun mahal dan sangat sedikit tersedia. Sementara itu, perbanyakannya pun dilakukan dengan tulisan tangan.
Kalau di jaman kini, mengirimkan serta menggandakan dokumen ratusan halaman bisa berjalan dengan sekali klik pada komputer jinjing di tas anda, maka pekerjaan yang sama berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbula-bulan pada masa lalu. Menyalin dokumen, misalnya dokumen keagamaan seperti kitab suci, dilakukan lembar demi lembar dengan pena bulu unggas di kertas perkamen  atau kulit binatang. Penyalinan dokumen lain seperti buku teks ilmu pengetahuan juga dilakukan dengan cara yang serupa. Barangkali inilah alasannya mengapa ilmu pengetahuan pada masa itu tidak berkembang secepat masa kini.
Di abad ini, kita boleh bernapas lega. Dengan adanya kertas yang murah meriah, menulis bukan lagi hal yang mahal. Di ruang-ruang kelas sejak usia muda, semua anak-anak kita dilatih menulis. Dijamin, beberapa waktu berada di kelas awal sekolah dasar, mereka sudah cukup menguasai ketrampilan dasar ini. Apalagi, dengan dukungan peralatan komputer dan segenap perangkat lunaknya, menulis bukan lagi hal yang istimewa.
Tetapi sangat disayangkan bahwa kegiatan menulis dan membaca nyatanya menjadi hal yang cukup langka ditemui. Pada sekolah-sekolah dasar, pelajaran menulis memang bukan pelajaran khusus pada kelas-kelas akhir. Siswa hanya menulis ringkasan, tugas-tugas, mengisi titik-titik, menjawab pertanyaan singkat dan sejenisnya. Keterampilan seperti meringkas kemudian menceritakan kembali isi ringkasan tidak banyak dilakukan, ataupun seandainya dilakukan pun hanya untuk formalitas belaka, dan tak dipertanggungjawabkan isi ringkasan mereka. Keluhan sementara adalah bahwa alokasi waktu untuk mata pelajaran untuk menulis memang tidak banyak setiap minggunya.
Kita pun kini sering memaklumi, bahwa kutip menutip hasil tulisan kadang merupakan hal yang biasa. Ketika seorang mahasiswa ditugaskan membuat tulisan, ia tinggal melenggang dengan flash disk ke internet, mengutip tulisan dari sana, dan mengeprintnya dengan menggunakan nama sendiri. Sekali lagi, formalitas belaka tanpa pertanggungjawaban tentang isi tulisan, bahwa tulisan tersebut adalah benar-benar hasil karyanaya. Jujur saja, saya sendiri pun pernah melakukannya hehehe.
Beberapa waktu belakangan, tersebar kabar bahwa publikasi karya tulis mahasiswa adalah salah satu syarat kelulusan. Sekali lagi tentang menulis. Meski tidak banyak, dari media didapati kabar bahwa ada segelintir mahasiswa yang menyatakan tidak siap. Padahal, pertanggungjawaban karya tulis di depan tim penguji adalah sesuatu yang lumrah bagi mereka, menjadi kewajiban kelulusan jenjang strata satu ke atas. Dugaan saya, barangkali mereka khawatir atas tulisan mereka yang tak layak muat?
Tak begitu jadi persoalan bila kategori “tak layak muat” ini karena terkait kesalahan teknis penulisan, bukan terkait metodologi maupun isi penelitian. Kenapa? Karena dalam penerbitan, ada orang yang berprofesi untuk mengerjakan tugas ini. Siapa dia? Yah, editor.
Profesi terkait kepenulisan seperti ini memang jarang kita jumpai. Di antara ribuan orang, mungkin hanya dijumpai satu dua orang yang bekerja di bidang kepenulisan ini, misalanya editor pada penerbitan buku atau surat kabar. Kerja mereka, tentu saja adalah memperbaiki kesalahan-kesalahan teknis, kesalahan susunan kata dan kalimat dsb. Kita tahu, di kampus, sering dipersoalkan tatabahasa maupun ejaan serta susunan kata dan kalimat yang tidak sempurna yang sebenarnya saja menjadi urusan para editor ini. Sedangkan para peneliti sendiri, atau orang yang dilatih untuk meneliti, mereka bisa fokus pada penelitiannya tanpa pusing-pusing atau banyak tergoda untuk urusan teknis semacam ini, yang sebenarnya menjadi pekerjaan para editor.
Begitu pula bagi para penulis-penulis sastra, mereka cukup menulis secara kreatif, sedangkan urusan tatabahasa dan susunan kalimat-kalimat serta kata-katanya menjadi urusannya para editor.
Akhirnya, selamat menulis tanpa takut tak terbaca.
Rabu, 25 April 2012 | By: Admin

Wera betok di Lewopao



Kemarin sempat ke pantai Lewopao, ada tempat piknik di sana, tepat di tepi pantai. Jalan ke lokasi tersebut dibangun dari semen menuju pantai, dengan dua sumur serta halaman luas. Langsung tampak di sebelah kiri anda sebuah tanjung batu yang menjorok ke laut. Jalannya masuk dari sisi lapangan Lewopao. Anda mesti berbelok ke kanan sebelum lapangan bola jika anda dari Waiwerang.
Bentuk pantainya hampir menyerupai semua pantai umumnya di seputar situ, yaitu kebanyakan dari tebing batu dengan sedikit pantai berpasir. Pohon kelapa tumbuh di beberapa tempat, dan memang di situ tidak ada tempat atau bangunan untuk berteduh.
Selasa, 24 April 2012 | By: Admin

Celaka maut di jalur banjir


Marisa adalah anak dari teman saya, masih TK di sebuah sekolah muslim. Dia punya seorang teman, sebut saja Ani, yang bulan kemarin tertimpa kecelakaan. Mayat Ani ditemukan oleh penumpang sebuah perahu motor yang hendak ke Lewoleba, terapung di perairan dekat dermaga Waiwerang.
Awak perahu mengevakuasi mayat itu ke dermaga, lantas oleh keluarga dibawa ke rumah sakit Waiwerang. Sore itu, heboh tentang kejadian tersebut pun berlangsung di hunian kami, karena anak ini adalah temannya Marisa juga.
Dulu, sebelum Marisa sekolah, Ani sering datang ke hunian kami dan bermain-main bersama Marisa. Dan semua mendengarkan ceritanya, banyak yang nimbrung tentang cerita kecelakaan itu.
Pagi tadi, Ani masih di sekolah. Marisa yang punya cerita, Mereka sempat mengejar kupu-kupu yang lepas di lapangan. Ani yang membantu menangkap kupu-kupu itu. Lalu, Ani pun pergi. Entah ke mana perginya.
Ini masih musim hujan. Jalur banjir di kompleks menuju pasar waiwerang, dari Gereja Kristus Raja, sebenarnya adalah tempat berbahaya. Dulu seorang teman lain pernah menyelamatkan seorang anak lain di jalur itu yang terseret banjir.
Dia kelihatan hanyut, kata si teman. Dan kami berlari menyusul menuju lubang ke arah laut. Kami mengambil sebuah kayu, memalangnya di tengah-tengah jalur banjir itu. Ketika banjir menyeretnya melintas, dia menangkap kayu itu, lalu kami menyeretnya keluar dari air.
Jalur banjir itu sempit, dibuat dari tembok. Dari jalan tidak kelihatan, sebab jalur itu tertutup di dalam tanah. Pada saat-saat tertentu, tempat itu tampak tak berbahaya, karena tak ada air yang tampak melewatinya. Tetapi bahaya datang dari hulu. Tiba-tiba saja ada banjir besar tanpa tanda-tanda terlebih dahulu. Banjir pun bisa datang kemudian, muncul setelah hujan mereda, karena masih butuh waktu untuk mengalir dari hulu hingga tiba ke jalur ini.
Jalur ini juga merupakan pecahan aliran dari kali, sehingga jika kali meluap, sebagian banjirnya melewati jalur ini. Belum lagi, karena jalur ini sempit dan juga cukup miring, maka alirannya bisa sangat deras kalau banjirnya banyak. Tetapi yang menyebabkannya lebih berbaha adalah bahwa tempat itu sering dijadikan tempat bermain oleh anak-anak. Mereka sering bermain luncuran di atas air, mirip luncuran sungguhan di permainan air. Di waktu-waktu tertentu, mereka tak mengira kalau bahaya bisa datang mengintai.
Bisa dibayangkan itu, ketika asyik-asyiknya mereka menikmati permainan mereka, banjit datang dan menyapu.
Minggu, 22 April 2012 | By: Admin

JEMBATAN KAYU DI DEMONDEI



Di atap bus kayu

Ada acara sambut baru di Demondei, Adonara, pada 2002 lalu. Masih sekolah menengah di Larantuka, nama saya disisipkan dalam daftar orang-orang yang mesti hadir di sana. Bukan undangan lho, tapi sebagai pekerja untuk mengurusi dekorasi tempat acara itu. Saya lalu diongkosi oleh yang punya urusan. Biasa, soal transportasinya.
Nama kampung Demondei tentu pernah saya dengar, tetapi saya belum pernah berada di sana sebelumnya. Pas hari H nya tiba, saya dan seorang teman lain bergabung dengan rombongan keluarga  yang hendak berangkat. Itu selepas sekolah, Sabtu siang.
Hari itu adalah hari pasar di Waiwadan, dan pada jam-jam itu, orang bergegas kembali ke kampung masing-masing. Mereka berkumpul di ujung lorong dengan barang bawaan mereka, barang belanjaan untuk keperluan barangkali selama seminggu itu. Setiap hari Sabtu, para penduduk dari pedesaan yang sebagian besarnya petani memadati pasar Waiwadan untuk menjual hasil bumi mereka, dan pulang kembali ke kampung setelah membelanjakan sebagian uang mereka.
Senin, 27 Februari 2012 | By: Simpet Soge

Jambu Mente

Bagaimana membuat tanaman jambu mente menjadi subur? Kalau ayah anda petani, atau mungkin malah anda sendiri punya tanaman ini, barangkali anda butuh dijawab. Tidak sulit memang mencari informasi di jaman kini. Kemarin, saya memang pernah pegang buku tentang jambu mente. Buku tebal itu adalah teks pelengkap punya saudara-saudara kita di Fakultas Pertanian.

Ada satu petunjuk kerja, seingat saya, tentang bagaimana menguburkan dedaunan dan cabang-cabang yang dipotong dari tanaman ke lubang yang dibuat di sekeliling pohon. Lubang dibuat dengan lebar sekitar dua jengkal dan dalam sekitar dua setengh jengkal, persis di ujung paling jauh yang masih terjangkau oleh cabang.

Liburan kemarin, saya coba-coba buat.

"Kami sudah coba dengan membakar daun-dan itu. Abunya kan bisa menyuburkan", kata seorang ibu.

Masalah muncul karena abu tersebut ada di atas tanah dan segera dihanyutkan oleh angin maupaun air. Lagipula, serabut akar pohon jarang berada di permukaan.

Daun-daun yang terkubur itu akan menjadi makanan binatang dalam tanah seperti rayap, semut, cacing, ulat atau larva dan lainnya. Juga jasad renik membantu pembusukannya. Tanah dari pembusukkan itu tidak benar-benar padat. Ada pori-porinya untuk menyimpan air. Hehehe ini cuma kira-kira saja.

Memang, butuh kerja juga untuk mewujudkannya. Kerja keras. Kalau kerja cerdas, tidak harus. Seseorang kan tidak mesti harus jadi doktor untuk tahu menanam mente. Yang penting, bisa percaya apa kata orang cerdas, itu cukuplah.

"Tapi ini bisa terjadi apabila orang cerdas tak pelit berbagi ilmu. Buat jurnal tentang pernak-pernik pertanian, bukannya hanya duduk manis saja di Fakultas mereka" begitu gerutuan seorang kawan, waktu ia masih sering negative thinking.

IKLAN ROKOK DARI ALAM BAWAH SADAR

Jika anda hendak berhenti merokok, ada satu nasihat bahwa anda harus singkirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rokok. Banyak hal yang berhubungan dengan rokok misalnya puntung rokok, segelas kopi yang sering jadi teman rokok, bungkusan rokok, pakaian anda yang bau rokok, bahkan mungkin teman anda yang perokok.

Jikalau anda memang tidak dapat menghindar dari mereka, maka mereka selayaknya disingkirkan. Begitu pula, untuk mereka yang belum merokok, hal-hal yang berhubungan dengan rokok seharusnya dijauhkan. Sayang disayang, seringkali kita tidak tahu bagaimana alam bawah sadar itu bekerja.

Kebiasaan salah, membuat asbak rokok sebagai prakarya barangkali adalah kesalahan terbesar yang populer semasa SD saya. Di bawah sadar, seolah-olah dikatakan: mari kita mendukung perokok. Mari kita merokok. Merokok itu baik.

Betapa tidak? Prakarya asbak rokok dibuat seindah mungkin, dari bahan yang beragam, dihiasi ornamen dan motif-motif, dicat, dihaluskan dan sebagainya. Bahannya bisa dari bambu, batok kelapa, juga tanah liat. Seolah, itu karya seni bermut tinggi.

Belakangan, ada kesalahn baru melekatkan rokok dengan adat istiadat. Ah, yang benar. Siapa bilang merokok berhubungan erat dengan adat-istiadat dan serimonial sakral? Apa merokok adalah nilai luhur sejak nenek moyang dan patut diteruskan sebagai tradisi? Boleh jadi. Tetapi kenyataan menunjukkn bahwa merokok adalah kebiasaan dari luar. Jangankan rokok. Jagung, yang dikira pangan lokal kita, nyatanya dibawa belanda dari luar negeri dan kita kenal sejak abad 16. Jadi, sama seperti kebiasaan main facebook yang populer kini, merokok adalah kebiasaan yang dibawa dari luar.